Cerpen - The Dark Christmas

>> Kamis, 02 Juli 2009

Sorak sorai dimana-mana, wajah berseri dan penuh dengan kebahagiaan adalah suasana di bulan Desember. Pohon Natal yang dihiasi berbagai macam bentuk hiasannya menerangi setiap rumah umat Kristiani, bahkan juga di toko-toko dan pusat perbelanjaan.

Aku mengerti betul rasanya menantikan hari natal tiba karena aku pernah merasakannya. Setiap malam aku keluar dari apartemen ku untuk membeli makan malam, dan malam ini tepat ditanggal 24 Desember, terasa begitu ramai. Aku berjalan dengan langkah kecil menuju restoran andalanku. Bahkan di sini pun terpajang pohon natal besar di pintu masuk. Terlihat olehku seorang ibu bersama ketiga orang anaknya yang sedang memesan makanan.

"Ma, aku mau cake yang ada Cinterclaus nya" suara lembut salahseorang anak dari ibu bertubuh besar itu.

"Iya, duduk dulu yang manis nanti cake Cinterclaus nya datang." jawab ibu yang masih kelihatan muda itu.

Begitu semangatnya keluarga ini menyambut Natal, sampai-sampai makanan yang dipesanpun berbau Christmas. aku terus memperhatikan bagaimana ibu itu menyemangati ketiga anaknya menyambut hari kelahiran Yesus. Ku urungkan niatku untuk makan di restoran ini karena aku tak kuat menahan air mataku setelah melihat kejadian barusan.

Aku keluar dan kembali ke apartemen ku. Ku pandangi setiap sudut dari apartemen ini dan yang kutemui hanya aku sendiri di ruangan ini. aku masih sangat ingat, dulu waktu aku masih kecil mama selalu bilang.

"Jesslyn mau hadiah apa dari Cinterclaus?"

Dan setiap tahunnya seperti itu. Sampai aku beranjak dewasa pun, aku masih sering membantu mama memasang pohon natal di rumah dan menyajikan hidangan para tamu.

Namun kini semuanya hanya kenangan. Jangankan merasakan moment itu lagi atau sekedar membantu mama bila natal tiba, untuk menerima telepon ku saja mama sudah tak sudi. Pintu rumah di mana aku dibesarkan selalu tertutup untukku. Semenjak aku memutuskan untuk jadu mualaf beberapa bulan lau, aku harus merasakan hidup bagaikan sebatang kara.

Aku duduk di atas sofa dan meneteskan air mata.

"Seandainya mama bisa mengerti, aku sangat menyayanginya. Maafkan aku Ma jika mama terluka atas keputusanku. Apa malam ini mama merasakan malam Natal yang indah tanpa ku? Apa malam ini ada yang menggantikan aku di rumah? Tidak rindukah mama padaku? Aku ingin sekali memeluk mama dan mengucapkan Merry Christmas pada mu.Tapi sepertinya pintu maaf untukku tak akan pernah ada."

Di saat yang sama susanana rumahku sepi sekali. Hanya ada mama dan papa yang terpaku di depan TV.

"Seandainya saja Jesslyn ada di sini pasti malam Natal ini akan indah." kata papa dengan mata berkaca-kaca.

"Sudahlah jangan sebut lagi nama anak itu. Kalau sja ia tidak meninggalkan Yesus, tentu saja Mama tidak mengusirnya dari rumah." smabut mama dengan penuh amarah.

"Ma. Jesslyn itu anak kita. Walau bagaimanapun dia keluar dari rahimmu yang suci. Mungkin dia merasa nyaman dan yakin untuk berbeda kepercayaan dengan kita." bujuk papa.

Mendengar itu mama hanya diam termenung memandang fotoku yang terpajang di depannya.

"Tidak! Dan tidak akan pernah! Aku mendidiknya untuk terus menjadi seorang anak Tuhan yang rajim beribadah, aktof dalm berbagai kegiatan di Gereja, Dan tiba-tiba saja di hari yang tak akan pernah aku lupakan itu, dia dengan entengnya mengatakan bahwa ia sudah berbeda keyakinan dengan kita. Dasar anak durhaka! Aku tak akan pernah memaafkannya." jelas mama kepada papa yang berusaha meluluhkan kekerasan hati mama.

Mungkin kesucian Natal tidak dapat membuat mama memaafkan aku. Apapun yang terjadi saat ini, aku tetap akkan selalu berharap mama mengerti akan semuai ini, suati hari nanti.(By Meylian)

0 komentar:

fOlLoweR$

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP