Cerpen - Ketika Semuanya Hilang
>> Kamis, 02 Juli 2009
Tiba-tiba semuanya begitu cepat dan hilang seketika. Ibu dan adikku hilang. Semuanya berantakan dan kacau. Tiga hari yang lalu, Tsunami melanda kota kelahiranku. Menghancurkan lebih dari 60 persen kota ini. Yang ku ingat, aku sedang bersama adik dan ibuku. Saat itu, aku mendengar teriakan warga, itu membuat ibu ku terkejut dan memeluk adikku kemudian membawa aku keluar dari rumah. Aku dan ibuku berlari sekuat tenaga. Air yang begitu tinggi mengejar kami. Aku takut sekali. Aku…
“ Hei Nak, jangan melamun, kesini lah, kita makan dulu,” teriak seorang bapak yang diperban kepalanya.
Aku..tenggelam…ibu ku terbawa arus…aku tak dapat memegang tangan ibuku. Aku terpisah darinya .
“ Nak, ini untuk mu.”
“ Makasih Pak.”
Aku selamat dari Tsunami. Mustahil sekali pikirku. Aku ditemukan Pak Reno, bapak yang diperban kepalanya. Saat ini, kami berada di tenda yang disediakan oleh pemerintah. Kulihat, seorang ibu menangis histeris mencari suami dan anaknya. Pak Reno juga kehilangan istri dan anaknya. Kami semua sangat kehilangan.
“ Don, kamu kenapa?”
“ Pak, apa mungkin ibu dan adikku masih hidup?”
“ Don, berdoa lah pada Tuhan!”
“ Pak, apa sudah ada kabar tentang keluarga Bapak?”
“Belum Don.”
“ Pak, bagaimana kehidupan kita setelah ini?”
“…”
Seorang petugas keamanan datang dan menanyai identitas kami. Ku lihat daftar nama yang ada di tangannya. Tidak ada nama ibu juga adikku. Kembali aku terdiam dan menahan air mataku. Pak Reno mengelus kepalaku dan menenangkanku.
Beberapa warga sedang ribut bertanya-tanya pada petugas. Petugas meminta kami tenang. Aku melihat suasana di tenda, ada warganya yang menangis, ada yang diam melihat langit, ada yang terganggu jiwanya karena kehilangan orang yang dicintai. Keadaan begitu kacau di tenda ini.
Apa ini rasanya takut kehilangan orang-orang yang kita cintai? Aku merasa jantungku hilang. Ayahku meninggalkanku karena wanita lain. Hanya ibu dan adikku yang kupunya saat ini. Rasa takut ini tidak separah rasa takut saat ayah meninggalkan aku. Apa aku masih boleh berharap ibu dan adikku selamat?
Keesokan harinya bantuan dari pemerintah pusat datang. Tiga helikopter yang membawa kebutuhan pangan, sandang dan obat-obatan. Lima helikopter lainnya memuat orang-orang yang menggunakan baju hijau lengkap dengan perkakas mereka. Kami diberi makanan dan baju ganti. Ada yang tidak kebagian. Beberapa korban merampas makanan dari korban yang lain, dan terjadilah keributan. Mengerikan sekali.
Aku dan pak Reno kembali ke tenda setelah berusaha mendapatkan beberapa pakaian. Kami duduk dan memperhatikan keadaan sekitar. Kami melihat anak perempuan yang kira-kira berumur 5 tahun sedang mengambil baju-baju di jalanan yang sangat kotor.
“Pak, bagaimana kehidupan kita setelah ini?”
“ Bapak tidak tahu.”
“…..”
Aku sangat berharap ibu dan adikku selamat. Hatiku gelisah , aku tak dapat tenang dengan hanya menunggu kabar dari petugas. Aku memutuskan untuk mencari mereka. Kemungkinan saja mereka berada di tenda lain. Aku pamit dengan pak Reno.
Di perjalanan, aku melihat banyak sekali mayat-mayat. Ada yang tertindih pohon dan puing-puing, ada yang sangkut di atap rumah juga ada mayat yang kondisinya sangat parah.
Banyak sekali orang yang berbaju hijau. Mereka sedang berusaha membuka jalan, mereka mencari korban-korban lainnya. Jenazah yang di temukan, di masukan ke kantong kuning.
Aku berjalan ke arah timur. Di tenda ini tidak ada ibuku juga adikku. Di sini banyak sekali perawat. Mereka menangani korban yang masih selamat yang terluka. Keadaan di daerah ini masih sama dengan tempat ku. Berantakan dan hancur semuanya.
Sepuluh hari berlalu, masih belum kutemukan mereka. Bantuan terus datang dari berbagai Negara. Kudengar ratusan ribu warga meninggal. Aku semakin takut, tapi tetap kulakukan pencarian sampai kutemukan ibu dan adikku.
Saat ini kami semua berusaha membersihkan jalanan. Kami membantu petugas mengumpulkan puing-puing. Kami mencari jenazah lainnya. Para pemuda lainnya juga ikut membantu. Sambil membantu, hati ku juga tidak tenang, seakan ada sesuatu yang kurang, adikku dan ibuku belum juga kutemukan. Apakah mereka masih hidup? Aku rasa aku harus optimis kalau mereka masih hidup. Jenazahnya tidak ditemukan, pastilah masih hidup. Mereka pasti ada di tenda lainnya. Selesai membantu aku harus melanjutkan misi pencarian keluargaku.
Matahari mulai condong ke arah barat. Selesai membantu petugas, aku pergi untuk mencari keluargaku. Lelah juga menelusuri jalanan yang masih kacau balau. Sekilas aku melihat benda berkilau di tumpukan puing-puing yang tertutup sebagian oleh lumpur, perasaan penasaran pun muncul, benda apakah yang berkilau itu? Bergegas aku pergi menuju sumber silaunya benda itu. Segera ku bongkar tumpukan puing-puing tersebut. Saat aku memindahkan potongan puing yang terakhir,aku kaget. Aku melihat sosok wanita yang tewas dan seluruh badannya kotor sekali karena lumpur. Hatiku mulai tak tenang. Pikiranku memvonis kalau dia ibuku. Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat jika itu kenyataannya. Petugas datang ke arahku, mereka mengangkat tubuh wanita itu dan memasukkannya ke kantung kuning.
“Sebentar Pak!” kata ku.
“Ada apa, Dek?” tanya petugas itu.
“Saya ingin melihat kalung yang di kenakan oleh wanita itu Pak, sebentar saja!”
“Baiklah”
Kalung itu persis punya ibuku. Pikirku mungkin saja orang lain yang juga memilikinya. Pasti bukan ibuku. Kedua petugas tadi membawa jenazah itu ke tenda untuk di identifikasi, aku berada di luar tenda sambil menunggu informasi tentang jenazah itu. Setelah kira-kira tiga jam aku menunggu akhirnya petugas itu keluar dari tenda.
“Dek, itu ibu Mira….”
Apa aku masih tertidur? Tadi petugas itu menyebutkan nama ibuku. Ya Tuhan, mungkinkah Kau yakin aku bisa menghadapi ini?
“Dek…?”
“…….? “
Hatiku terasa sangat ngilu sekali. Sepatah katapun tak dapat ku keluarkan. Air mataku tidak dapat kutahan lagi. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Sakit sekali rasanya. Bulu kudukku bangkit dan membuat tubuhku pucat. Berat sekali rasanya untuk masuk ke dalam tenda dan melihat wajah ibuku. Kutatap dengan teliti wajah ibuku, barangkali dia bukan ibuku. Tapi tetap saja, kalung serta tanda lahir ibuku ada di tubuh jenazah wanita itu. Teringat oleh ku saat-saat sedang membantu ibuku memasak.
Malam ini adalah malam yang paling menyakitkan bagiku. Aku meminta izin pada petugas untuk memperbolehkanku membersihkan jenazah ibuku. Aku hanya bisa diam membisu. Wajah ibuku begitu damai di mataku. Kuharap ibuku diterima di sisi Tuhan.
Keesokan paginya aku bersama Pak Reno serta warga lainnya, mengantarkan jenazah ibuku serta jenazah lainnya ke tempat yang telah disediakan petugas. Jenazah ibuku dikubur bersama jenazah lainnya. Tempat penguburan yang sangat tidak layak bagiku. Semua jenazah di satukan di dalam suatu lubang yang telah di gali. Ukuran lubang itu cukup luas untuk ratusan jenazah.
Melihat para petugas menutup lubang itu, aku jadi mengingat wajah ibuku. Menurutku ini terlalu cepat. Berbaktipun belum sempat kuberikan. Teringat lagi masa-masa dimana ibuku meminta aku untuk memijitnya.
“Don, Bapak lebih tenang jika kamu menangis, jangan diam seperti ini!”
Aku tersadar dari lamunanku. Kulihat wajah Pak Reno yang begitu cemas. Kusandarkan kepalaku ke bahunya.
“Pak, saat ini yang kupunya hanyalah Pak Reno. Adikku masih belum kutemukan, aku tidak tahu bagaimana nasibnya saat ini Pak.”
“Don, percayalah bahwa Tuhan pasti akan melindungi adikmu.”
“Pak..”
“Iya..”
“Terima kasih.”
Setelah penguburan selesai, aku pulang ke tempat penampungan. Sudah empat hari aku belum menemukan adikku, aku sangat khawatir akan keadaannya saat ini. Di tempat penampungan aku duduk bersama Pak Reno yang belum juga menemukan keluarganya. Aku turut prihatin dengan keadaannya saat ini. Nasib kami sama, sama-sama merasa kehilangan.
Para petugas masih melakukan misi pencarian para mayat. Para petugas serta warga lainnya saling bantu-membantu dan terus berusaha. Aku jadi berpikir sejenak akan kebodohanku. Apa gunanya terus bersedih, aku tidak boleh kalah dengan mereka, aku harus mencari adikku.
Tangisan yang memilukan terdengar dari tenda-tenda, banyak orang yang sedih kehilangan keluarga mereka. Sebagian warga pingsan dan belum sadarkan diri. Melihat keadaan yang begitu kacau, aku jadi takut sekali. Kotaku kacau sekali saat ini. Aku belum sempat menamatkan pendidikan 12 tahunku, bagaimana masa depanku nanti?.
Tangisan bayi yang kuat sekali memecahkan lamunanku, mendengar itu aku langsung menuju kesana, berharap bahwa suara tangisan itu adalah adikku yang bernama Putri.
“Permisi Bu, ada apa dengan bayi itu Bu?”
“Entahlah Nak, Ibu juga tidak tahu, dari tadi ia menangis terus.”
“Bu bolehkah saya menggendongnya Bu?”
“Silahkan Nak. Lagi pula Ibu tidak tahu siapa orang tua dari bayi ini”
Putri, iya…dia adalah putri. Betapa bahagianya aku, aku tidak sendiri. Sekarang aku bersama adikku. Kubawa adikku pulang ke tempat penampungan. Pak Reno yang sudah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri yang sedang melihat ke arah langit berpindah melihat aku yang menggendong seorang bayi.
“Don, itu adikkmu ya?”
“Iya, Pak. Tadi aku menemukannya di salah satu tenda Pak. Emm, Bapak sudah menemukan keluarga Bapak?”
Pak Reno termenung sejenak, ku lihat wajahnya begitu sedih. Aku tahu, itu petanda bahwa ia belum menemukan keluarganya.
“Keluarga Bapak telah meninggal dunia Don, tadi para petugas telah menemukan mayat istri dan kedua anak Bapak.”
Aku salah, ternyata keluarga Pak Reno telah meninggal dunia. Pak Reno tegar sekali, tak kulihat ia menjerit atau apapun. Dia berdoa. Aku tahu itu.
“Sabar ya Pak. Saya turut berduka cita.”
“Terima kasih Don.”
Aku juga harus tegar dan berani menghadapi cobaan ini, aku masih mempunyai tanggung jawab. Merawat adikku yang baru berumur satu tahun.
Mentari pagi pun telah terbit, aku terbangun dari tidurku, kulihat adikku begitu lelah. Aku bersyukur bisa bertemu dengan Putri. Para warga yang selamat, sedang berusaha untuk membangun rumah mereka yang telah hancur oleh Tsunami, ada sebagian orang yang pindah ke kota sebelah untuk melanjutkan kehidupan mereka. Jika mengharapkan dari bantuan pemerintah hidup ku tidak akan bisa maju, aku ingin bisa menyekolahkan adikku ini. Jadi aku dan Pak Reno memutuskan untuk pergi bersama warga lainnya ke kota seberang, di sana aku harus mencari pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan ku dan adikku.
Beberapa hari meninggalkan kotaku, akhirnya kami sampai di tujuan. Walaupun berat meninggalkan tempat kelahiran tapi tetap harus kujalani, dengan sedikit uang yang di dapat dari bantuan Pemerintah mungkin bisa menyewa rumah yang murah. Dengan berpindah ke kota ini tentulah aku harus mencari pekerjaan, tapi pekerjaan apa yang dapat kulakukan?
“Koran-koran,” kata sang penjual Koran.
“Mau koran Dek?”
“Tidak Bang, saya tidak punya uang. Bang, saya mau tanya, bagaimana caranya supaya saya bisa jualan koran seperti Abang?”
“Ooo, Adek mau menjual koran? Kalau mau Abang antar ke agennya.”
“Mau Bang, saya sangat membutuhkan pekerjan ini Bang.”
“Baiklah , ayo Abang antar.”
Perasaan gembira yang aku rasakan pada saat itu. Aku melamar menjadi penjual koran dan ternyata aku diterima. Walaupun penghasilanku tidak seberapa tapi kurasa bisa mencukupi kehidupan keluargaku. Pak Reno bekerja sebagai tukang loak. Ia juga membantu merawat aku dan Putri.
“Koran-koran, koran Pak?”
“Ada berita apa Dek?”
“Ini Pak, beritanya masih hangat tentang Tsunami Aceh.”
“Bapak beli satu ya Dek, harganya berapa?”
“Empat ribu, Pak.”
“Kembaliannya ambil saja ya.”
“Makasih Pak.”
Hari demi hari kujalani dengan menjual koran, sambil membawa adikku di belakang punggungku walaupun terasa lelah tapi tetap harus kujalani.
Beberapa tahun kemudian…..
“Agus ini artikel yang akan di publikasikan tolong diketik ya, besok sudah akan dimuat!” kata ku.
“Baik Pak.”
Sekarang aku telah menjadi seorang direktur bidang percetakan koran, dan aku bisa membiayai sekolah adikku yang sekarang duduk di Sekolah Dasar. Pak Reno membantu ku mengurus percetakan ini. Beliau menjadi orang tua angkatku.
Aku berencana membangun panti asuhan untuk mereka yang tidak mempunyai tempat tinggal. Juga sebagian penghasilanku, untuk pembangunan sekolah di Aceh. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Aku telah sukses. Bencana yang menimpaku mengajarkan aku sesuatu yang begitu berharga. Bangkit kembali dari kejatuhan , raih masa depan yang lebih baik.




0 komentar:
Posting Komentar